Indonesia dan Pluralisme


Sejak beberapa tahun yang lalu, masyarakat Indonesia terus dikejutkan dan diresahkan dengan berbagai pemberitaan yang menyangkut masalah SARA (Suku, Agama, Ras, dan Golongan). Berawal pada mereka yang kurang bertanggung jawab dan memanfaatkan sentimen pada kelompok tertentu demi keuntungannya, publik pun akhirnya terpecah pada dua golongan yang bertolak belakang. Golongan mayoritas dan minoritas, radikal dan moderat. Bukan hanya bertolak belakang, kedua golongan ini pun sering saling menyerang satu sama lain. Bukti nyatanya dapat kita lihat di kolom-kolom komentar media sosial. Apapun beritanya, ada saja komentar yang berbau SARA dan berusaha mejatuhkan kelompok lain.
Tentunya hal ini patut menjadi keprihatinan kita semua. Ibarat sebuah bom waktu yang selama ini hanya berdetik dan akhirnya meledak, perbedaan diantara kita ternyata telah berkembang menjadi suatu masalah yang sangat besar. Sesuatu yang jika dibiarkan lebih lama lagi tentu dapat membahayakan persatuan bangsa dan Negara. Ada dua alasan utama yang penulis kemukakan menjadi akar dari masalah pluralisme di Indonesia.
Alasan pertama adalah fakta bahwa Indonesia memang Negara yang majemuk. Dengan adanya enam agama besar yang diakui dan ribuan suku bangsa yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, Indonesia sangat rentan terhadap intoleransi dan perpecahan. Untunglah pemerintah kita menyadari dan mengantisipasi hal ini melalui pelajaran Kewarganegaraan atau Pendidikan Pancasila yang diberikan di sekolah. Sayangnya, dewasa ini pelajaran tersebut sering tidak lagi dianggap penting oleh pelajar. Akhirnya, nilai-nilai toleransi dan persatuan yang seharusnya diajarkan pun tidak dapat tercerna dengan baik. Tidak berlebihan apabila kita katakan generasi muda kita mengalami krisis Nasionalisme. Hal ini diperparah dengan warisan sikap orang tua yang masih mengeksklusifkan suku dan agama tertentu. Anak pun akhirnya tumbuh menjadi seseorang yang menganggap suku dan agamanya lebih baik dari orang lain. Belum lagi faktor sejarah yang terjadi dalam keluarga. Keluarga yang memiliki masalah masa lalu dengan suku atau agama tertentu cenderung lebih berhati-hati atau bahkan menjauhi suku dan agama tersebut.
Alasan lainnya adalah ego manusia. Charles Darwin dalam teori evolusinya pernah berkata “yang terkuat adalah yang akan bertahan”. Secara tidak langsung, sebagian masyarakat kita menganggap kemajemukkan yang ada sebagai ancaman terhadap kebudayaan suku atau agamanya. Salah satu cara agar kebudayaan tersebut bisa bertahan adalah dengan mengeksklusifkannya. Tidak salah memang. Namun pada tingkat yang berlebihan, sikap ini akhirnya terkesan menghakimi kebudayaan suku bangsa atau agama lain dan akhirnya menimbulkan pergesekkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Untuk memperburuk keadaan, mulai muncul oknum-oknum tertentu yang memanfaatkan lubang di masyarakat ini demi kepentingannya. Mereka mengadu domba dengan berbagai cara sehingga masyarakat fokus membela suku atau agamanya bukan lagi membela bangsanya. Politik menjadi celah utama untuk merasuki masyarakat. Contoh nyatanya adalah sebutan tahun 2018 sebagai ‘Tahun Politik’. Sejak tahun lalu, banyak black campaign dalam bidang SARA yang dilakukan para calon pemimpin demi menjatuhkan lawan politiknya. Tidak jarang mereka menggandeng tokoh agama dan masyarakat untuk memperkuat koalisinya dan menjatuhkan pihak lain.
Sebagai ujung tombak masa depan bangsa, masyarakat khususnya generasi muda harus mengambil sikap tegas dalam menghadapi hal ini. Generasi muda harus mampu dan mau berpikir serta bersikap kritis. Jangan mudah terpengaruh pada ajakan dan perkataan yang sekiranya dapat memecah belah bangsa kita. Ingatlah bahwa diatas kepentingan golongan ada kepentingan bangsa yang jauh lebih besar. Sebuah homogenitas memang adalah kekuatan. Namun jangan pernah lupa bahwa sejak awal berdirinya, Indonesia memang tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi Negara yang homogen. Para pendiri bangsa ini menyadari betul bahwa kekuatan Indonesia ada pada keheterogenitasannya, bukan kehomogenitasannya. Perpaduan hidup dan toleransi antar golongan-golongan yang ada lah yang membentuk jati diri kita sebagai bangsa yang toleran di kancah dunia. Perbedaanlah yang membuat kita indah, yang membuat kita kaya.
Lebih jauh lagi, masyarakat harus mulai belajar untuk fokus pada perkembangan dan kemajuan bangsa, bukan hanya fokus pada perbedaan yang ada. Sebelum Negara ini terbentuk, nenek moyang kita lebih dulu berperang bersama memperjuangkan lahirnya sebuah bangsa. Sekarang, kita yang boleh menikmati anugerah kemerdekaan ini baiklah mensyukuri dan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Sebagai warga Negara, jelaslah tugas dan tanggung jawab kita semua untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang sejahtera dan termasyur. Cara untuk menggapainya adalah dengan saling bersatu, mengesampingkan ego dan perbedaan yang ada, dan mulai membangun Indonesia menjadi lebih baik lagi. Dialog-dialog antar agama dan mempelajari kebudayaan dari suku lain menjadi penting agar kita bisa lebih mengerti saudara-saudara yang berbeda dengan kita. Jangan sampai persatuan yang sudah terbangun selama puluhan tahun ini hancur karena ego semata. Mari menjaga persatuan, mari menjaga Indonesia. (EOG)

Bandung, 8 Februari 2018

Komentar

Postingan Populer