Another Yogya Adventure
Hai semua, dalam postingan ini saya
mau membagi pengalaman saya selama mengikuti field study alias fieldtrip dari
Studi Industri Perjalanan STP NHI Bandung tahun 2018. Kegiatan field study merupakan sebuah kegiatan
yang sangat dinantikan oleh semua mahasiswa STP NHI Bandung. Bagaimana tidak? Yaa
hitung-hitung jalan-jalan gratis, nambah pengalaman baru, dan quality time
dengan teman-teman sekelas lah.
Sebagai anak jurusan perjalanan di
STP NHI Bandung, saya pun mendapat kesempatan juga untuk pergi field study
bersama teman-teman sekelas. Field study kami kali ini akan mengambil tempat di
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan dilaksanakan pada hari Rabu, 21 November
2018 hingga Sabtu, 24 November 2018. Dalam field study ini, kami akan
melaksanakan observasi di tempat-tempat wisata dan mewawancarai narasumber
untuk memenuhi kompetensi tugas. Now, I won’t tell you about our task to
interviewed tourists. I’ll just focus on the attraction and things that you
could enjoy while you’re there. Selama di Yogyakarta, ada 11 tempat yang saya
dan rombongan kunjungi, yaitu Tebing Breksi, Malioboro, Tembi Rumah Budaya, Merapi
Lava Tour, Punthuk Setumbu, Bukit Rhema, Borobudur Cycling Tour, Candi
Prambanan, Candi Ratu Boko, Keraton Ngayogyakartahadiningrat, dan Permandian
Taman Sari. Semuanya merupakan tempat-tempat wisata yang menjadi ikon kota
Yogyakarta atau tempat wisata yang sedang hits dan baru berkembang.
Pada hari pertama tour tanggal 21
November 2018, saya dan teman-teman sudah berkumpul di kawasan kampus ST NHI
Bandung sejak pukul 04.30 WIB. Kami melakukan morning briefing dan pengecekan
segala bawaan dan selanjutnya naik ke dalam bus untuk melakukan perjalanan ke
Yogyakarta. Kalau kamu pernah dengar kalau anak perjalanan STP NHI Bandung
tidak boleh tidur di perjalanan, well it’s actually right. Kami memang tidak
boleh tidur selama di jalan karena sudah merupakan bagian dari kompetensi kami
untuk mengetahui jalan-jalan menuju atraksi wisata. Tapi tenang, dosennya tidak
sekejam itu juga. Pada waktu-waktu tertentu di perjalanan, kami tetap diizinkan
juga untuk beristirahat.
Singkat cerita, setelah 12 jam
melewati perjalanan darat, kami pun sampai di Tebing Breksi. Tebing Breksi
sendiri merupakan tebing bekas pertabangan breksit yang ada di sekitar kawasan
Candi Ijo. Sejak tahun 2015, tebing ini dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk
dijadikan sebuah tempat wisata yang unik dan indah. Sayangnya, karena waktu
yang tersedia tidak lama karena tempat tersebut sudah mau tutup, kami pun
meluncur mencari narasumber potensial untuk tugas kami. Meskipun hanya
sebentar, kami berhasil mendapat momen matahari terbenam yang sangat indah di
Tebing Breksi. Cukuplah untuk sedikit membayar rasa lelah kami setelah seharian
melakukan perjalanan.
Setelah dari Tebing Breksi, kami pun
check in dan makan malam di hotel. Belum selesai sampai di sini, kami pun
mendapat waktu sekitar satu jam untuk mengeksplorasi Malioboro, dan tentu saja
mencari narasumber :”) Sekitar pukul 21.30, kami kembali ke kamar masing-masing
dan bersiap untuk perjalanan di hari berikutnya.
Hari Kedua di Yogyakarta, kami
memiliki agenda untuk mengunjungi Tembi Rumah Budaya dan Lava Tour. Tembi Rumah
Budaya sendiri adalah sebuah desa wisata di daerah Bantul. Di sini, rasanya
seperti kembali lagi ke masa kecil hehe.. Kami menghabiskan sekitar tiga jam
untuk bermain bakiak, menangkap belut, menanam padi, dan membajak sawah.
Meskipun dulu waktu kecil sudah pernah melakukan semua hal itu, it feels so
damn good to repeat it all over again. Belum lagi letak desa yang jauh dari
hiruk pikuk kota membuat kami yang datang sangat nyaman berada di sana.
Sayangnya, kami tidak menginap di Tembi Rumah Budaya. Padahal, asik sekali kan
kalau bisa menginap. Malam hari, dikelilingi sawah, penerangan juga seadanya,
hanya ada suara serangga yang saling bersahutan. Sedappppp… Meskipun hanya
sebentar, kami berhasil mendapatkan gambaran pembangunan desa wisata yang
seharusnya terjadi di Indonesia. Desa wisata bukan hanya berguna untuk menarik
wisatawan untuk datang berkunjung, namun juga harus mampu meningkatkan taraf
kehidupan masyarakat di desa tersebut. Lebih jauh lagi, adanay sebuah desa
wisata juga memberikan kesempatan bagi wisatawan dan penduduk desa untuk saling
berinteraksi dengan lebih hangat dan membangun hubungan silaturahmi.
Setelah itu, kami melanjutkan
perjalanan ke daerah Kaliurang. Kalau tadi kami sudah berpetualang ala
pedesaan, sekarang saatnya berpetualang ala anak muda hits jaman now, yaitu
naik jeep berkeliling desa-desa yang dulu pernah terdampak letusan Gunung
Merapi atau sering disebut Merapi Lava Tour. Dalam tour ini, kami mengunjungi
tiga buah tempat yang berhubungan dengan letusan Merapi; Museum Sisa Hartaku,
Batu Alien, dan Petilasan Mbah Marijan. Dalam tour ini, kami mendapatkan kesan
yang sangat mendalam tentang kekuatan alam yang sanggup menghancurkan apa saja.
Tapi di sisi lain, kami juga terpukau dengan indahnya pemandangan yang
ditawarkan Merapi lengkap dengan udara yang segar dan dingin. Saya sebenarnya
bingung harus berkomentar apa soal Lava Tour Merapi. All I can say is it was
such an AMAZING experience and I want to do it again. So I highly recommended
you to take this tour and feel the hype on your own.
Memasuki hari ketiga, kami memiliki
agenda yang jauh lebih padat dari hari-hari sebelumnya. Agenda hari ini diawali
dengan berburu matahari di kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Sejak pukul 02.00
WIB, kami sudah bersiap-siap untuk pergi ke Punthuk Setumbu dan Bukit Rhema,
atau yang lebih akrab disebut Gereja Ayam. Tau dong, dua tempat yang lagi
terkenal-terkenalnya di Magelang berkat salah satu film roman terkenal
Indonesia yang pernah syuting di sana. Saking terkenalnya tempat itu, kami sebagai
mahasiswa hits juga tidak mau ketinggalan untuk datang ke sana. Kami sampai di
Punthuk setumbu sekitar jam 04.00 WIB. Ternyata, untuk naik ke atas bukit ersebut
tidak mudah saudara-saudara. Kami harus tracking selama kurang lebih 15 menit
untuk menuju ke atas bukit. Belum lagi tangga oh tangga…. Rasanya tidak
habis-habis anak tangga yang kami daki. Perjuangan sekali lah untuk bisa
mendapat view matahari terbit itu. Setelah perjalanan yang tidak panjang namun
menguras keringat, kami sampai di puncak Puunthuk Setumbu. Pemandangan yang
bisa kami nikmati di sini luar biasa. Jejeran Gunung Merapi dan Merbabu, view
Candi Borobudur dari ketinggian, dan pemandangan kota Magelang yang tertutup
awan tipis di sebelah timur serta pemandangan Perbukitan Menorah di sebelah
barat. Semuanya seperti menyelimuti Punthuk Setumbu dalam keindahan tanpa
batas. Setelah puas menonton matahari terbit, kami pun melanjutkan perjalanan dengan
sedikit tracking menuju Bukit Rhema. For your information, Bukit Rhema yang
sering disebut sebagai Gereja Ayam ini sebenarnya tidak ada hubungannya sama
sekali dengan ayam. Bangunan ini sebenarnya adalah burung merpati yang
melambangkan perdamaian. Disini, view yang bisa didapat berbeda lagi. Bukan
hanya pemandangan Gunung Merapi dan Merbabu, di puncak Bukit Rhema kami bisa
melihat pemandangan Gunung Sumbing, Sindoro, Andong, dan beberapa gunung lain
yang ada di Jawa Tengah. Tidak heran si kalau tempat seindah ini berhasil
membius jutaan penonton lewat layar film. Sekitar pukul 07.30, kami pun
meninggalkan Bukit Rhema untuk agenda selanjutnya, Borobudur Cycling Tour.
Tampaknya hari ketiga ini memang
dirancang untuk kegiatan yang menguras energi. Dalam tour ini, kami naik sepeda
mengelilingi desa-desa wisata yang ada di sekitar kawasan Candi Borobudur.
Tidak main-main, kami mengayuh hingga sekitar total 25 km dan berhasil
mengelilingi tiga desa wisata. Can you imagine how’s my legs doing? :”) Kami
sampai di kawasan candi Borobudur sekitar pk 11.30 WIB dan langsung melanjutkan
perjalanan menuju Candi Prambanan di Yogyakarta. Ternyata “penderitaan” atau “petualangan”
kami hari ini belum berakhir saudara-saudara. Entah kami yang sudah tua dan kurang
olahraga atau bagaimana, rasanya hari ini kami sudah hampir tepar. Di Candi
Prambanan kami harus berjalan lagi dengan jarak yang lumayan bagi kaki yang
sudah gempor ini. Akan tetapi, di Candi Prambanan ini kami mendapat kesempatan
untuk dapat melihat kebesaran peninggalan Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia dan
segala cerita yang mengawali pembangunan bangunan luar biasa ini. Tidak ketinggalan,
di Candi Prambanan ini, kami juga kembali mencari narasumber untuk memenuhi
tugas kami. Perjalanan hari ketiga ini kami tutup dengan mengejar matahari
terbenam di Candi Ratu Boko. Kami meninggalkan Candi Prambanan sekitar pukul
15.30 untuk menuju Candi Ratu Boko yang jaraknya tidak terlalu jauh. Kabar baiknya,
kami akan mendapat pemandangan sunset yang sangat indah di Ratu Boko. Kabar buruknya,
more and more stairs to climb. AAARRGGHH rasanya sudah mau menyerah saja kalau
tidak ingat indahnya sunset di Candi Ratu Boko. Dengan keringat dan sisa-sisa
tenaga kami pun mendaki tangga lagi untuk mencapai Candi Ratu Boko. Sembari menunggu
matahari terbenam, kami pun mengelilingi kompleks candi dengan ditemani pemandu
yang menjelaskan berbagi sejarah mengenai sejarah Candi Ratu Boko. Sayang, hari
itu kami kurang beruntung. Banyaknya awan di langit membuat matahari terbenam
di antara awan-awan sehingga cahaya yang ditimbulkannya ke candi kurang sesuai
dengan ekspektasi kami. Belum lagi, kami memang datang di bulan yang kurang
tepat sehingga kami tidak akan bisa menikmati senja yang terpantul di antara batu-batu
gerbang candi. Tapi tidak apa, kami cukup puas dengan keindahan yang ditawarkan
Ratu Boko sore itu. Cukuplah untuk sedikit mengobati badan kami yang lelah dan
kaki yang rasanya sudah mau copot ini.
Esok harinya, yaitu hari Sabtu, 24
November 2018 adalah hari terakhir kami di DIY. Rasanya kurang sekali waktu
yang kami habiskan di Yogyakarta. Di hari terakhir ini, kami mengunjungi dua
buah ikon kota Yogyakarta, yaitu Keraton Ngayogyakartahadiningrat dan
Permandian Taman Sari. Keduanya merupakan property dari Kesultanan
Ngayogyakartahadiningrat, salah satu ahli waris Kesultanan Mataram yang
terkenal. Keraton merupakan tempat tinggal Sri Sultan Hamengkubuwana X dan
keluarganya. Beliau merupakan Raja Kerajaan Yogyakarta sekaligus Gubernur DIY. Di
dalam keraton, kami berkesempatan melihat berbagi peninggalan bersejarah Kesultanan
Ngayogyakartahadiningrat serta melihat kehidupan para abdi dalem keraton. Puas mempelajari
sejarah, kami mengunjungi Permandian Taman Sari yang jaraknya hanya 15 menit
berjalan kaki dari keraton. Dulunya, tempat ini merupakan taman air dan
permandian bagi raja dan keluarganya. Belakangan ini, Taman Sari menjadi
primadona Yogyakarta di dunia maya karena berhasil menawarkan keindahan
arsitektur bangunan yang unik dan instagramable. Kami pun melihat-melihat
bangunan di Taman Sari sembari mencari narasumber untuk melengkapi laporan
perjalanan field study kami. Perjalanan pulang dari Taman Sari ditutup dengan
becak trip menuju parkiran mobil. Sebagai salah satu alat tansportasi
tradisional, becak-becak di Yogyakarta mulai bermodifikasi dengan adanya
becak-becak motor. Meskipun seirng diprotes karena menimbulkan polusi, hal ini
memungkinkan para penarik becak yang sudah tua dan tidak sanggup lagi mengayuh
untuk tetap bisa mencari nafkah melalui becaknya. Perjalanan pulang kami menuju
Bandung dimulai sekitar pukul 13.00. sebelum pulang kami menyempatkan diri dulu
untuk makan siang dan membeli oleh-oleh di sentra oleh-oleh Ambar Ketawang. Sudah
jalan-jalan jauh, pasti dong harus membawa buah tangan untuk orang-orang di
rumah. Setelah perjalanan panjang yang tidak kalah lama dengan perjalanan
pergi, akhirnya kami semua pun sampai dengan selamat di Sekolah Tinggi Pariwisata NHI Bandung pada
hari Minggu, 25 November 2018 pukul 02.30 WIB. Dengan sampainya kami di kampus,
berakhir pulalah rangkaian kegiatan field study kami di DIY. Meski hanya
sebetar, field study ini sukses memberikan kami sedikit angin segar sebelum
kami menjalani UAS.
Itulah sedikit pengalaman saya
selama menjalani field study. Tidak semua pahit, dan tidak semua pengalaman
juga terasa manis. Bagaimana pun itu, field study ini berhasil membantu kami
untuk lebih memperbaiki diri dan membentuk diri menjadi calon-calon masa depan
industri perjalanan. (EOG)


Komentar
Posting Komentar