Cerita Dari Tanah Nenek Moyang
Cerita ini merupakan hasil karyaku pada perlombaan Travel Writing Kompetisi Pariwisata Indonesia (KPI) ke-10 tahun 2019. Pada kisah ini, aku membagikan sedikit pengalamanku berkeliling Tana Toraja, sebuah negeri indah di atas pegunungan yang kaya akan makna.
Bandung, April 2019
Ini adalah cerita tentang pengalaman pertamaku menjelajah Bumi Sulawesi.
Sudah sejak lama, aku selalu bermimpi untuk mengelilingi Indonesia dan
berpetualang di luar Pulau Jawa. Berkat bantuan seorang sahabat (sebut saja
namanya Tasha), Desember 2018 ini salah satu mimpiku menjadi kenyataan. Kami
pergi ke sebuah kabupaten kaya makna di pegunungan Sulawesi Selatan yaitu
Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara. Kedua kabupaten ini merupakan rumah
dari Suku Toraja yang terkenal akan keunikan budayanya. Keunikan inilah yang sering
dimanfaatkan oleh masyarakat Toraja di kedua kabupaten tersebut sebagai daya
tarik utama pariwisata daerah. Pada kesempatan ini, aku berpetualang di
Kabupaten Toraja Utara selama satu minggu. Tak kusangka, perjalananku kali ini
meninggalkanku dengan banyak pengalaman baru mengenai budaya Indonesia.
Untuk pergi ke Toraja, cukup banyak persiapan yang harus kulakukan,
terutama persiapan finansial. Jarak Toraja yang jauh dari kota besar membuat
transportasi menuju kesana pun membutuhkan biaya yang lebih besar. Ditambah
lagi kami pergi ke Toraja pada bulan Desember yang merupakan high season liburan sehingga harga tiket
transportasi pun menjadi lebih tinggi. Secara keseluruhan, budget yang perlu kusiapkan untuk pergi ke Toraja selama satu
minggu adalah sekitar Rp 5.000.000,00. Tentu saja ini bukan jumlah yang pasti
dan mungkin dapat berubah sesuai kebutuhan dan gaya wisata setiap orang. Aku
cukup beruntung karena dalam perjalananku ini, beberapa bagian dari
pengeluaranku yang sudah ditanggung oleh keluarga sahabatku.
Selain persiapan keuangan, tentu saja aku juga menyiapkan persiapan
kebutuhan pribadi. Untuk berwisata ke Toraja, aku membawa pakaian dan alas kaki
yang photogenic namun tetap nyaman
untuk beraktivitas di luar ruangan. Banyak destinasi wisata di Toraja yang
membutuhkan aktivitas fisik sehingga cukup membuat berkeringat. Oh ya, jangan lupa
juga siapkan juga payung atau jas hujan. Cuaca Toraja yang ada di daerah
pegunungan membuat cuaca di tempat ini sangat mudah berubah-ubah.
Persiapan lain yang kulakukan adalah mencari info-info mengenai wisata
Toraja melalui internet. Banyak sekali tempat menarik di Toraja yang bisa
dikunjungi, seperti kubur batu Londa dan Lemo, Museum Ne’Gandeng, Negeri di
Atas Awan, Objek Wisata Religi Patung Tuhan Yesus Memberkati, dan sebagainya.
Jika bingung Anda juga bisa mengikuti paket wisata Toraja yang umumnya
disediakan travel agent dari
kota-kota di sekitar Toraja (Makassar dan Parepare).
Singkat cerita, petualangan kami berdua dimulai dengan keberangkatan
dari Bandung menuju Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng menggunakan travel seharga
kurang lebih Rp 95.000,00. Selanjutnya, kami naik pesawat dengan tujuan Bandara
Sultan Hassanudin, Makassar. Pesawat kami terbang meninggalkan Tanah Jawa pada hari
Sabtu, 22 Desember 2018 pukul 05.00 WIB. Ugh... penerbangan kami selama tiga
jam terasa mendebarkan karena cuaca buruk membuat turbulensi di dalam kabin
terasa cukup kuat. Setelah tiga jam penerbangan, kami pun sampai di Makassar,
ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. Akan tetapi, perjalanan kami belum selesai.
Kami masih harus melanjutkan perjalanan darat ke Kabupaten Toraja Utara sejauh
lebih dari 300 kilometer. Untuk perjalanan ini, kami memilih perjalanan darat
menggunakan bis malam dengan jenis double
decker bus kelas eksekutif seharga Rp 300.000,00. Perjalanan ini memakan
waktu cukup lama, yaitu selama 12 jam. Kami pun sampai di Rantepao, ibukota
Kabupaten Toraja Utara esok harinya sekitar pukul 09.00 WITA.
*_*_*_*_*
Sa’Adan, 24 Desember 2019
Pagi ini kami berangkat meninggalkan Kota Rantepao menuju Desa Sa’Adan
di utara Kota Rantepao menggunakan sebuah mobil sewaan. Berwisata di Toraja
Utara memang lebih mudah jika menggunakan kendaraan sewaan karena jarak antar
destinasi yang ada cukup berjauhan dan sulit dijangkau dengan kendaraan umum.
Untuk harga sewa yang ditawarkan berkisar Rp 500.000,00 per hari. Sebenarnya
kami ke desa ini bukan murni untuk berwisata, namun sekaligus menengok sanak
keluarga Tasha yang masih tinggal di pegunungan Toraja.
Masuk lebih dalam ke wilayah pegunungan Sulawesi Selatan, aku terkesima
dengan kemurnian alam yang masih jauh dari jamahan manusia. Sayang, jalan ke
Desa Sa’Adan masih belum berkembang dengan baik. Selama dua setengah jam
perjalanan, tubuh kami terus terguncang-guncang karena kondisi jalan yang
berlubang dan berbatu. Akan tetapi, kurasa semua cukup sepadan dengan udara
yang segar dan pemandangan yang sangat indah. Rasanya, aku seperti petualang
yang sedang mencari permata ditengah hutan rimba. Keindahan yang kurasakan
telah berhasil membuatku melepas sejenak penat kehidupanku sehari-hari.
Keindahan alam menuju Desa Sa’Adan
Jujur saja, aku kagum pada keteguhan orang-orang Suku Toraja. Menurutku,
mereka adalah bangsa pejuang dengan kecintaan besar pada nenek moyang dan adat
istiadatnya. Sebagai seseorang dari kota besar, sulit kubayangkan ribuan orang
telah bertahan seumur hidupnya di daerah-daerah terpencil seperti ini. Hidup
dengan memanfaatkan hasil alam, mensyukuri kehidupan yang sederhana, dan meneruskan
peradaban nenek moyang. Kehidupan yang mungkin sulit, tapi indah. Hidup tanpa
pretensi dan tuntutan, hidup yang bersatu dengan alam.
Di desa kecil di tengah pegunungan ini, aku berkesempatan untuk menginap
di rumah Tongkonan, rumah khas Suku Toraja. Rumah kayu yang kelihatannya kecil
itu ternyata cukup luas hingga mampu memiliki dua lantai. Bahan kayu yang
digunakan membuat suasana rumah terasa hangat dan nyaman. Hatiku pun terasa
hangat dengan keramahtamahan yang mereka tawarkan. Senyum dan tawa yang selalu
terukir dari bibir mereka membuatku merasa seperti berada di tengah keluarga
sendiri.
Rumah Tongkonan memiliki keunikan dengan adanya tanduk kerbau yang bersusun di bagian depan rumah. Tanduk itu menunjukkan strata sosial si pemilik rumah dan lamanya rumah itu ditinggali oleh suatu suku. Tanduk-tanduk kerbau itu adalah tanduk asli yang berasal dari kerbau-kerbau yang dipotong ketika ada upacara. Oh iya, di depan rumah Tongkonan juga terdapat sebuah hiasan rumah yang juga berfungsi sebagai lumbung padi. Lumbung padi merupakan lambang kemakmuran dan keprestisean masyarakat Toraja. Semakin banyak tongkonan yang ada di depan rumah seseorang, semakin tinggi pula prestise-nya di masyarakat.
Tongkonan dan Rumah Tongkonan
Secara tradisional, seluruh tiang rumah (baik rumah tongkonan maupun
tongkonan hiasan) berasal dari batang pohon sejenis palem-paleman yang telah
dikeringkan. Orang Toraja berhasil menyulap batang kayu tersebut mejadi sebuah
tiang yang indah dengan berbagai lukisan dan hiasan yang menceritakan kehidupan
budaya masyarakat Toraja. Umumnya, hiasan di rumah tongkonan atau hiasan
tongkonan bergambar te’dong bonga (kerbau belang), babi, dan ukiran khas
Toraja.
Ukiran hewan babi dan kerbau di rumah Tongkonan
*_*_*_*_*
Salubiang, 25 Desember 2018
Hari Natal tahun ini aku tidak bisa pergi beribadah ke gereja. Di tengah
pegunungan Toraja, gereja cukup sulit untuk ditemukan karena jaraknya yang
berjauhan dan kurangnya sumber daya manusia yang melayani. Meski begitu, aku
mendapat sebuah cerita baru lagi dari Natal kali ini.
Hari masih pagi ketika aku dan Tashya berangkat dari Desa Sa’Adan menuju
sebuah desa kecil bernama Salubiang. Desa Salubiang terletak lebih jauh di
pedalaman Sulawesi Selatan. Setelah menempuh perjalanan dengan mobil selama
satu jam, perjalanan kami terhenti karena jalan yang terputus longsoran tebing.
Akhirnya, kami pun harus berjalan kaki sejauh kurang lebih tiga kilometer.
Jalan aspal sudah tidak ada lagi, menyisakan jalan setapak dengan lumpur yang
cukup menggenang.
Berjalan kaki menuju Desa Salubiang
Setelah perjalanan yang melelahkan namun mengasyikan, kami pun tiba di
sebuah desa kecil di samping sungai. Ini adalah desa nenek moyang Tasha.
Sayang, tidak banyak lagi anak muda yang tinggal di desa. Sebagian besar anak
muda telah merantau ke luar daerah bahkan ke luar negeri. Hanya sisa orang tua
dan beberapa keluarga muda saja yang ada di desa kecil ini.
Hari ini kami akan mengunjungi salah seorang tetangga Tasha di Salubiang
baru saja meninggal enam bulan yang lalu. Keluarga masih menyimpan jenazah
nenek yang telah meninggal di dalam rumah dan memperlakukannya seperti
seseorang yang hidup. Ketika kami datang, mendiang diletakkan di dalam sebuah
peti dengan kaca di bagian wajah sehingga kami bsia langsung melihat wajah Nenek.
Menurut pihak keluarga, rencananya Nenek akan dimakamkan enam bulan lagi
setelah anak cucunya yang berasal dari Jakarta pulang untuk mengadakan pesta. Bagi
orang Toraja, upacara kematian merupakan momentum yang sakral. Seseorang yang
telah meninggal akan dilepaskan menuju alam baka dengan perayaan yang meriah
selama seminggu penuh. Pada perayaan-perayaan ini, akan diadakan pula
pengorbanan hewan kerbau dan babi sebagai bentuk penghormatan kepada mendiang.
Desa Salubiang
Kekeluargaan di antara maskyarakat Toraja memang sangat erat. Setiap
desa yang ada di Toraja selalu dihuni oleh suku keluarga yang sama. Di setiap
desa, kehidupan yang gotong royong dan saling membantu masih diterapkan dengan
sangat baik. Jika ada upacara-upacara besar seperti pernikahan dan kematian,
semua warga desa akan turut membantu persiapan dan pelaksanaan upacara.
Solidaritas seperti inilah yang kurasa perlu selalu diingat oleh setiap orang,
bukan hanya orang Toraja namun juga masyarakat Indonesia.
*_*_*_*
Rantepao, 28 Desember 2019
Mungkin tidak semua orang bisa seberuntung aku yang bisa mengunjungi
pedalaman Toraja dimana kebudayaan masih sangat asli. Akan tetapi, untuk
wisatawan yang ingin tetap menikmati kebudayaan Toraja sambil berwisata, Anda
bisa mencoba mengunjungi Kete’Kesu. Tempat wisata ini merupakan bekas desa adat
dari abad ke-17. Dengan membayar tiket masuk sebesar Rp 25.000,00 saja,
pengunjung akan bisa berfoto di depan rumah-rumah khas Toraja serta mempelajari
kebudayaan Toraja di museum yang ada. Di lingkungan Kete’Kesu juga terdapat
pemakaman tua Toraja. Dalam kebudayaannya, orang Toraja tidak menguburkan
jenazah di dalam tanah, namun memasukannya ke dalam sebuah kubur batu. Hal ini
berhubungan pula dengan geografis Toraja yang dikelilingi pegunungan batu
kapur. Memakamkan seseorang di kubur yang berada di dalam batu dianggap lebih
menghemat penggunaan tanah yang memang sudah terbatas di Toraja.
Kete’Kesu, sisa-sisa desa adat Toraja
Tepat di sebelah pintu keluar Kete’Kesu, terdapat sebuah tempat wisata
kecil bernama Istana Kerbau Belang. Di tempat wisata sederhana ini, Anda bisa
melihat Te’dong Bonga atau kerbau belang yang merupakan salah satu biatang
kebanggaan masyarakat Toraja. Harga kerbau dengan jenis ini bisa mencapai
milyaran rupiah. Kerbau dipercaya sebagai kendaraan suci yang akan mengantar
arwah menuju surga. Oleh karena itu, dalam setiap upacara pemakaman Toraja,
selalu ada kerbau yang dikurbankan sebagai bentuk penghormatan kepada orang
yang telah meninggal. Di tempat ini, Anda hanya perlu membayar Rp15.000,00
untuk dapat berfoto dan memberi makan kerbau belang.
Berada di pusat Kota Rantepao, aku juga
tertarik mengunjungi sebuah pusat pertokoan yang khusus menjual kain khas dan
pernak pernik khas Toraja. Perhatianku tersita pada keindahan kain tenun khas
Toraja. Di pertokoan ini, terdapat puluhan penjual oleh-oleh dan kerajinan
tangan khas Toraja, mulai dari ikat kepala, tas, pakaian pesta khas Toraja,
syal, kaos, manik-manik, dan banyak produk lainnya. Pada akhir pekan ada juga
para pedagang kaki lima penjual kerajinan. Perbedaannya, umumnya pedagang kaki
lima ini merupakan pengrajin yang pada hari kerja tinggal di desa untuk membuat
barang dagangannya. Harga yang ditawarkan kedua jenis pedagang ini pun tidak
terlalu berbeda jauh meski pedagang kaki lima umumnya menawarkan harga yang
lebih murah. Sebagian besar pedagang juga masih mengizinkan untuk melakukan
tawar menawar.
Untuk berbelanja di pertokoan ini, aku perlu menyiapkan uang tunai
karena seluruh pedagang belum menyediakan pembayaran non-tunai. Untungnya, di
kota Rantepao sendiri terdapat beberapa bank dan ATM yang bisa kugunakan ketika
kehabisan uang tunai.
Bagi orang Toraja, kain tenun memang
merupakan satu bagian penting dari kebudayaan mereka. Kain tenun yang dibuat
dengan teknik ikat menjadi perlambang kekeluargaan, persaudaraan, dan persatuan
diantara masyarakat Toraja. Pada banyak upacara adat, seperti upacara Rambu
So’lo (upacara pemakaman), masyarakat Toraja masih menggunakan kain adat
sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
*_*_*_*_*
Bandung, April 2019
Dari perjalananku ke Toraja, aku semakin sadar bahwa keberadaanku di
dunia ini merupakan hasil dari kehidupan-kehidupan yang ada di masa lampau.
Kebudayaan dan gaya hidup yang kukenal saat ini adalah hasil evolusi dari
kebudayaan dan gaya hidup pada zaman dahulu. Sebagai manusia, bukti eksistensi
kita di alam semesta ini hanya bisa dibuktikan dengan kebudayaan. Oleh karena
itu, menjadi tanggung jawab semua pihak, terutama generasi muda untuk mengenal
dan melestarikan kebudayaan masa lampau. Kebudayaan Toraja ini merupakan salah
satu kekayaan Indonesia yang perlu dilestarikan. Menurutku, potensi wisata yang
dimiliki oleh daerah pedalaman Toraja masih sangat besar untuk dikembangkan.
Memang masih tidak mudah bagi pemerintah untuk menjangkau masyarakat hingga ke
daerah-daerah pelosok dan mengembangkan pariwisata di sana. Akan tetapi,
apabila berhasil untuk dikembangakan, masyarakat di sekitar Toraja tidak perlu
lagi merantau dan dapat mengembangkan sendiri kampung halamannya. Tentu saja
perlu kajian yang lebih mendalam dan usaha yang serius dari semua pihak
mengenai hal ini.
Itulah sedikit pengalamanku berwisata ke Toraja, Sulawesi Selatan.
Pengalaman singkat yang banyak mengajarkanku tentang arti kehidupan. Perjalanan
yang membuatku sadar bahwa Indonesia adalah Negara yang kaya, baik dari segi
budaya, adat istiadat, ataupun kebiasaan. Perjalanan yang membuatku ingin
kembali dan kembali lagi ke kota kecil penuh pesona ini. (EOG)












Komentar
Posting Komentar